Tidak ada Lex Superior derogat legi inferiori dalam Agama



Klaten, 27 Februari 2013
18.34

Topik tentang agama lah yang paling sering saya hindari dalam pembicaraan, baik terhadap orang yang baru saya kenal, teman maupun sahabat saya sendiri. Dengan kemampuan yang masih dangkal ini, dan pengetahuan tentang agama yang jauh dari kata mumpuni, saya takut apabila salah ngomong tentang Agama tersebut. Telah diketahui agama adalah hal yang terlalu sensitif, terlebih lagi bagi mereka yang tinggal dalam suasana heterogen seperti di Indonesia ini.  Tetapi, sharing tentang lintas agama itu perlu kan? Saya merasa prihatin dengan banyaknya konflik yang terjadi di Indonesia ini. Konflik-konflik tersebut yang tidak saya sukai adalah dijadikan bahan pengeneralisasian agama satu terhadap agama lainnya.

Saya tidak tahu berapa jumlah agama yang hidup di dunia ini. Tapi yang jelas, setiap manusia yang beragama menganggap bahwa Tuhan/Dewa yang mereka percayai hukumnya wajib untuk disembah dan dipuja. Alasan memilih agama karena ikut orang tua menjadi sebuah alasan klise yang sering digunakan sebagai tedeng aling aling ketika seseorang ditanya kenapa ia memilih agama A ? kenapa ia memilih agama B? dst. Fanatisme tentang kebenaran ajaran agama tersebut memang dibutuhkan. Jika seseorang mengetahui bahwa suatu agama tidak benar adanya,kenapa ia harus memilih agama tersebut?

Tapi, menurut saya pribadi fanatisme agama di Indonesia cenderung kebablasan, inilah tantangan bagi kita sendiri bagaimana fanatisme itu tetap berada dalam porsi dan fungsinya, dan jangan sampai fanatisme berubah aliran menjadi sovinisme terhadap agama. Telah kita ketahui bahwa sovinisme adalah sikap yang mengagung-agungkan apa yang dimiliki/dipercayai dan menganggap apa yang orang lain miliki jelek adanya. Bagaimana seorang dapat men judge agama itu A salah sedangkan dia sendiri tidak pernah belajar ataupun setidaknya menelisik lebih dalam tentang agama A tersebut.
Sejarah dunia yang pernah saya pelajarin pernah mencatat, kita tidak akan lupa dengan Perang Salib, pemusnahan agama minoritas ataupun pembantaian seorang pemimpin di negeri tirani. Itu semua dikarenakan persepsi agama tentang siapa yang menjadi superior dan siapa yang menjadi inferior. Dalam pengantar Ilmu Hukum ataupun Pengantar Hukum Pajak saya pernah diajarkan suatu istilah Lex superior derogat legi inferiori yang secara gampang artinya hukum yang lebih tinggi mengesampingkan hukum yang lebih rendah. Saya tidak habis pikir dengan orang yang menganggap agamanya paling tinggi sehingga atas nama agama membunuh dilegalkan, atas nama agama menyakiti agama lain merasa mendapat penghormatan.

Sebaiknya kita sendiri memang menganggap agama kita memang mengajarkan kebenaran, tetapi jangan sampai superior itu muncul. Meskipun kita berpikir agama kita adalah agama yang paling benar lebih baik disimpan dalam hati kita sendiri, ataupun jika ingin disampaikan, sampaikanlah pada komunitas sendiri, mengingat kondisi bangsa Indonesia ini, kita memang bangga dengan perbedaan yang dimiliki Indonesia, namun jangan sampai lupa dengan sensitivitas perbedaan itu. emosi dapat terpancing dengan hal hal yang simpel bahkan diluar akal sehat kita sendiri.

Menurut saya, agama tidak hanya dijadikan perihal untuk ritual menyembah dan berhubungan dengan Tuhan, tidak hanya sebagai pemberitahuan bahwa kita beragama, apalagi agama tidak hanya dijadikan pengisi pada kolom KTP, esensi dari agama itu adalah menciptakan perdamaian yang ada antara  manusia dengan manusia yang lain. selama di Bumi Tuhan ini masih ada perselisihan yang berlandaskan agama, hal ini berarti misi Tuhan untuk menciptakan perdamaian dunia melalui agama belumlah terwujud. Tak dipungkiri agama telah dijadikan bahan provokatif yang palingsering digunakan kepada orang orang yang kurang berilmu seperti saya ini.

Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya; hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.” Einstein - Anonim

0 komentar "Tidak ada Lex Superior derogat legi inferiori dalam Agama", Baca atau Masukkan Komentar